Andi Iskandar Tompo, Titipan Muhammadiyah Untuk Senator


CALON ANGGOTA DPD RI. Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulsel, Andi Iskandar Tompo, akan ikut bersaing memperebutkan satu dari empat jatah anggota Senator untuk Sulsel. Ia adalah kader tulen Muhammadiyah dan dikenal getol memperjuangkan Syariat Islam di Parlemen.



----------------


Andi Iskandar Tompo, Titipan Muhammadiyah Untuk Senator


Harian Berita Kota Makassar,
Sabtu, 29-11-2008

Muballig selalu identik dengan mesjid dan mushallah. Keberadaan mereka dianggap hanya sebagai penjaga moral masyarakat belaka.

Para muballig terkadang agak risih ketika harus bersinggungan dengan kerja-kerja politik, yang pemburu kekuasaan. Memang, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bukan dari parpol, tapi proses pencalonannya, nyaris tak beda dengan pemilihan legislator.

Pada pemilihan anggota DPD sebelumnya, ada H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai salah satu aktivis Islam yang bertarung. Aziz Qahhar adalah Ketua Lajnah Tanfidziyah Komite Persiapan Penegakkan Syariat Islam (KPPSI).

Kali ini, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sulsel, Andi Iskandar Tompo, akan ikut bersaing memperebutkan satu dari empat jatah anggota Senator untuk Sulsel. Ia adalah kader tulen Muhammadiyah dan dikenal getol memperjuangkan Syariat Islam di Parlemen.

Sejak dulu, alumni IAIN Alauddin ini dikenal sebagai muballig. Dia konsern ceramah ke masyarakat, selain tugasnya sebagai dosen luar biasa di Universitas Muhammdiyah (Unismuh) Makassar. Basic pendidikan agama, menjadi agenda perjuangannya di Senayan, dengan prioritas di bidang pendidikan, agama dan pemuda.

Majunya Iskandar sebagai calon Senator, bukan keinginannya sendiri. Dia satu-satunya yang direkomendasi oleh Muhammadiyah Sulsel.

"Pak Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah, red) meminta, setiap daerah ada salah satu calon dari PW Muhammadiyah yang direkomendasi ke DPD RI," kilahnya.

Komitmennya Jelas


Di DPRD Sulsel (1999-2004), mantan ketua Pemuda Muhammadiyah ini, pernah memperjuangkan penegakkan Syariat Islam, melalui Perda-perda Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Pernah pula memperjuangkan seksi agama menjadi Biro Kesejahteraan, Agama dan Pemberdayaan Perempuan. Seksi ini masuk ke dalam struktur pemerintahan Provinsi Sulsel.

Dari DPRD Sulsel, tahun 2005-2007 dia dipercayakan masyarakat Makassar menjadi anggota DPRD Makassar. Pria kelahiran Gowa 8 Januari 1949 ini, tak pernah vakum. Perda Zakat berhasil ditelurkannya di DPRD Makassar tempo itu.

Kader Muhammadiyah tulen ini, meyakini, majunya sebagai calon anggota Senator adalah aspirasi banyak orang. Kantong suara akan mudah diraihnya, jika seluruh warga Muhammadiyah Sulsel, memilihnya.

Jika kelak terpilih, toh, katanya, bukan cuma aspirasi warga Muhammadiyah yang akan diperjuangkan, tapi ummat secara menyeluruh.

"Saya akan bersinergi dengan tokoh semua agama, bagaimana membangun ummat. Di bidang pendidikan, saya akan berkomunikasi intens dengan seluruh kepala daerah, apa kebutuhannya masing-masing," ujar mantan pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah Gombara ini.

Paham persoalan rakyat Sulsel, tentu harus hidup bersama dengan masyarakat. Dia berjanji, akan tetap berdomisili di Makassar. "Sewaktu-waktu kalau ada yang perlu dibahas di pusat, baru saya akan ke Jakarta. Tapi yang pasti, saya akan lebih lama di Sulsel, turun ke daerah-daerah," janjinya. (PR7/R5)

Komentar