Gejolak Sejarah dan Masa Depan IMM


Mari kita kembalikan ikatan ini pada tempatnya dan memperjelas identitas sebagai gerakan mahasiswa Islam, mengembalikan kepribadian muhammadiyah sebagai landasan perjuangan ikatan, serta fungsi IMM sebagai bagian mahasiswa. - Rifki Ismulail - (dok. pribadi)



----------------------------------------


Gejolak Sejarah dan Masa Depan IMM


(Catatan Menjelang Muktamar Setengah Abad IMM, 27-30 Mei 2014)


Oleh: A Muh Rifqi Ismulail
(Ketua PC IMM Gowa Bidang SPM)

Proses kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilandasi oleh sebuah respons dari kewajiban sejarah. Saat itu telah terjadi situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil.

Pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, kemudian adanya ancaman komunisme yang terjadi di Indonesia, terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk.

Selain itu, terbingkai-bingkainya kehidupan kampus yang berorientasi pada kepentingan politik praktis sehingga mahasiswa menjadi tumbal dalam mewujudkan kepentingan golongan tertentu, melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme, sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama  dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler.

Di sisi lain, masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan, masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah, khurafat, bahkan kesyirikan, serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi dan kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk.

Dalam kondisi seperti itulah, muncul ide untuk mewadahi potensi ide dan gagasan di kalangan pemuda. Dalam hal ini kumpulan mahasiswa dalam sebuah organisasi bernama IMM. Inilah yang menjadi instrument untuk memperjuangkan kepentingan harkat hidup masyarakat di Indonesia.

Pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan pencetus nama IMM adalah Drs Moh Djazman Al-Kindi yang juga merupakan koordinator dan sekaligus ketua pertama.

Muktamar IMM yang pertama dilaksanakan pada tanggal 1-5 Mei 1965, di Kota Solo, dengan menghasilkan deklarasi "IMM adalah Gerakan Mahasiswa Islam. Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM, fungsi IMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisator dan dinamisator). Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah. IMM adalah organisasi yang sah mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan dan falsafah negara yang berlaku. Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa."

Selanjutnya yang juga termasuk faktor intem dalam melahirkan IMM adanya motivasi di kalangan keluarga Muhammadiyah dalam upaya mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah baik yang berada di struktural ataupun di luar dan simpatisan, baik yang berekonomi atas, menengah ataupun bawah, harus dapat memahami dan mengetahui Muhammadiyah secara general ataupun secara spesifik, sehingga tidak muncul kader-kader Muhammadiyah yang radikal (berwawasan sempit).

Penegasan motivasi etis ini sebenarnya merupakan interpretasi (pemahaman) dari firman Allah SWT dalam QS Al-Imran: 104, yang artinya “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

Kita harapkan kader-kader Muhammadiyah yang khusunya IMM dapat merealisasikan motivasi etis di antaranya dengan melakukan dakwah amar ma`ruf nahi munkar, Fastabiqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan & demi kebaikan).

Meretas konflik untuk masa depan IMM

Masa depan IMM harus kita rekayasa dari sekarang di tengah sejarah yang berulang kembali dimana kehidupan sekarang cenderung pragmatis di tengah kondisi pemilihan umum pasca pemilihan legislatif dan menjelang pemilihan presiden wakil presiden Indonesia periode 2014-2019, dimana perputaran uang dari ratusan juta hingga milyaran rupiah telah menyuap dan membungkam hati nurani masyarakat untuk memilih pemimpin yang potensial, sehingga membentuk karakter masyarakat yang matrealistik yang cenderung liberalisme.

Konflik antar etnis suku, agama dan ras di beberapa daerah dan didalam lingkup internal kita sendiri sehingga melahirkan sekat-sekat pemicu konflik yang terjadi, sewajarnya memberikan kesadaran diri bagi kita generasi muda bangsa yang merupakan generasi sang pencerah untuk menerjemahkan kondisi alam ini dan melakukan instrospeksi diri menjadi pribadi dengan karakter yang lebih baik lagi.

Yang perlu kita lakukan sekarang adalah harus memetakan apa yang menjadi potensi kader dari berbagai sekta keilmuan seperti sosial, seni, budaya, kesehatan, hukum, politik dan ekonomi.

Kita beri ruang sebesar-besarnya kepada mereka untuk mengasah ilmu pengetahuan sesuai jurusan masing-masing sehingga ke depan kita mampu menciptakan dan membentuk kader potensial yang menjadi tokoh penggerak bangsa, jangan membuat sebuah peraturan yang ekstrim, sehingga membuat potensi kader tertutup dan tidak bisa berkembang sedemikian rupa.

IMM di usianya yang genap setengah abad ini akan melaksanakan Muktamar di Solo Surakarta pada 26-30 Mei 2014 sebagai sebuah proses dilakukannya regenerasi kepemimpinan di tingkat dewan pimpinan pusat, dimana seluruh kader baik dari tingkatan komisariat, pimpinan cabang, hingga dewan pimpinan daerah, akan ikut berpartisipasi dalam pemilihan pimpinan.

Berhubungan dengan dewan pimpinan pusat maka kita berbicara terkait kebangsaan dan masa depannya, maka kader wajib mengaktualisasi diri sesuai dengan pemikiran intelektualnya untuk menciptakan sebuah  gagasan produktif dan reaktif dalam menjawab fenomena bangsa yang sangat prihatin kita lihat dari kacamata pemuda saat ini.

Mulai dari mutamar ini, mari kita kembalikan khittah perjuangan IMM melalui kota Solo yang merupakan tempat dilakukannya muktamar pertama pada saat didirikannya. Tempat ini merupakan lokasi yang sangat bersejarah dalam merumuskan arah pergerakan ikatan mahasiswa muhammadiyah.

Untuk itu, mari kita kembalikan ikatan ini pada tempatnya dan memperjelas identitas sebagai gerakan mahasiswa Islam, mengembalikan kepribadian muhammadiyah sebagai landasan perjuangan ikatan, serta fungsi IMM sebagai bagian mahasiswa, dimana bukan menjadi penghalang atau tembok dalam mengasah dan mengembangkan ide dan gagasan yang potensial dari mahasiswa, tetapi lebih daripada itu IMM senantiasa hadir untuk menjadi sebuah instrument gerakan dalam mewujudkan tujuan ikatan mahasiswa Muhammadiyah yaitu membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia di kalangan pemuda bangsa yang haus akan ide dan gagasan masa kini.

Komentar